Gemar Nonton Sepakbola Bisa Turunkan Risiko Kena Demansia

Akhir pekan anda selalu diwarnai dengan acara nonton bareng pertandingan sepak bola? Jika iya, teruskan kebiasaan itu. Pasalnya, Gemar Nonton Sepakbola Bisa Turunkan Risiko Kena Demansia dan terbukti membuat otak lebih aktif. Simak selengkapnya dibawah ini.

Gemar Nonton Sepakbola Bisa Turunkan Risiko Kena Demansia

Gemar Nonton Sepakbola Bisa Turunkan Risiko Kena Demansia | Sepak bola sebagai olahraga bisa langsung membawa manfaat kesehatan bagi fisik pemainnya itu sendiri. Namun, fans bola yang hanya duduk manis menonton lewat layar kaca pun bisa kebagian “jatah” manfaatnya, terutama bagi kesehatan mental mereka.

Dikutip dari Huffington Post, Alistair Burns selaku direktur departemen Demensia di NHS (biro pelayanan kesehatan di Inggris Raya setara BPJS di Indonesia) mengatakan,

Menonton sepak bola menjaga tetap otak aktif dengan terus merangsang saraf otak bekerja membentuk ingatan emosional.”

Apa, sih, yang dimaksud dengan ingatan emosional?

Begini sederhananya; tidak jarang, kan, kita dibuat emosi sampai “darah tinggi” oleh jalannya pertandingan yang alot? Sebaliknya pun begitu. Sudah tak terhitung lagi, kan, berapa kali kita juga dibuat bersorak bahagia saat merayakan kemenangan telak klub favorit? Nah ternyata, otak ikut menyimpan setiap emosi yang kita rasakan selama nonton bola ini dan mengolahnya sebagai ingatan atau kenangan spesifik.

Semua emosi yang terkait dengan kejadian tersebut, misalnya bahagia karena menang atau marah dan sedih karena kalah, akan disimpan dalam amigdala yang menjadi pusat kontrol emosi. Sementara itu, setiap elemen yang membentuk suatu memori (misalnya di mana, pertandingan apa, dan bersama siapa Anda nonton bola) akan disimpan di dalam hipocampus.

Nah, hipocampus dan amigdala adalah dua bagian otak yang saling terhubung, sehingga dalam prosesnya akan menciptakan ingatan emosional. Ingatan emosional adalah salah satu dari dua jenis memori utama dalam otak manusia. Ingatan ini bisa diputar kembali sewaktu-waktu ketika Anda merasakan emosi yang serupa di kemudian hari. Ingatan emosional juga lebih kuat daripada memori biasa (misalnya, ingatan tentang makan apa Anda kemarin siang).

Kenangan waktu nonton bola disimpan kuat oleh otak

Ingatan emosional jauh lebih kuat daripada memori biasa karena otak Anda mengaitkannya dengan momen spesial yang menegangkan atau membahagiakan. Saking kuatnya ingatan emosional ini menempel di otak, Anda bisa mengingat kembali setiap momen spesifik tersebut di kemudian hari baik secara sengaja maupun tidak. Bahkan hingga bertahun-tahun setelahnya.

Tidak percaya? Coba saja tanyakan kakek atau ayah Anda yang jadi dulu juga jadi fans bola garis keras. Mereka mungkin masih bisa mengingat dengan detail negara mana yang menjadi jawara di Piala Dunia tahun 1986. Mereka juga mungkin bisa tiba-tiba mengingat siapa yang cedera atau yang mencetak gol kemenangan tersebut. Nah, rangsang ingatan emosional inilah yang dipercaya oleh peneliti berpotensi memperkuat aktivitas otak.

Baca Juga : Obat Herbal Ejakulasi Dini

Nonton bola jauhkan fans dari risiko depresi dan demensia saat tua

Berdasarkan teori di atas, Burns kemudian menjabarkan bahwa ketika Anda mengingat suatu peristiwa/situasi/seseorang yang spesifik, otak akan langsung berbarengan mengaktifkan emosi yang terkait dengan hal tersebut. Pernah kan, ketika Anda mencoba mengingat si mantan, tiba-tiba hati terasa sedih atau marah? Mekanisme yang sama juga terjadi pada fans bola.

Mencoba mengingat atau menonton kembali sebuah siaran ulang pertandingan bola akan membangkitkan emosi yang sama sewaktu pertama kali mengalaminya. Mungkin emosi yang dirasakan saat ini tidak akan sekuat dulu, namun tetap saja Anda bisa merasakan kesedihan atau kebahagiaannya, bukan?

Ini menegaskan kembali pendapat para ahli bahwa ingatan emosional dapat memicu emosi sama seperti aktivasi emosi dapat menciptakan sebuah informasi atau pemahaman baru (kognisi). Nonton bola dapat membantu Anda menanam ingatan emosional dan memungkinkan otak untuk mengaktifkan lagi kenangan terkait peristiwa itu di masa depan, yang berpotensi memperkuat aktivitas otak tetap aktif di masa tua.

Kemampuan memutar kembali ingatan positif atau detail momen-momen hebat terkait pertandingan bola yang pernah ditonton, ungkap peneliti, dapat mencegah risiko kemunculan demensia di masa tua atau bahkan mengurangi tingkat keparahannya. Selain itu, kemampuan memutar kembali kenangan bahagia sehabis nonton bola juga bisa mencegah risiko depresi dan kesepian di usia lanjut.

Baca Juga : Perubahan Tubuh Ini Akan Anda Rasakan Setelah Berhenti Minum Alkohol

| Gemar Nonton Sepakbola Bisa Turunkan Risiko Kena Demansia |

Aktivitas Seru Yang Bisa Bantu Kurangi Risiko Demensia

Risiko demensia bisa diperlambat atau bahkan dicegah sama sekali dengan menjaga pola makan sehat dan rutin olahraga untuk otak. Disamping itu, beberapa aktivitas yang anda lakukan sehari-hari tanpa disadari juga membantu menjaga kesehatan otak sehingga mengurangi risiko demensia. Inilah Aktivitas Seru Yang Bisa Bantu Kurangi Risiko Demensia.

Aktivitas Seru Yang Bisa Bantu Kurangi Risiko Demensia

Aktivitas Seru Yang Bisa Bantu Kurangi Risiko Demensia | Penyakit demensia identik dengan kondisi yang dialami saat usia senja. Secara singkat, demensia adalah gangguan fungsi kognitif menyeluruh dari otak yang ditandai dengan gangguan fungsi memori atau daya ingat.

Demensia disebabkan oleh penyakit otak. Penyakit alzheimer adalah bentuk paling umum dari demensia. Penyakit yang memengaruhi pembuluh darah seperti serangan jantung dan stroke, merupakan penyebab kedua paling umum dari demensia.

Beberapa pakar menyebut bahwa demensia dapat ditangani dengan melakukan aktivitas yang menstimulasi otak. Nah dibawah ini adalah beberapa aktivitas serung yang menstimulasi otak untuk mengurangi risiko demensia :

  • Baca Buku

Hampir 90% orang Indonesia tidak suka baca buku. Hal ini tentu sangat disayangkan karena manfaat membaca buku tidak cuma bantu memperluas wawasan dan membangun kreativitas.

Hobi baca buku sama saja dengan melatih kemampuan konsentrasi dan fokus otak untuk menyelesaikan satu tugas. Membaca juga melatih Anda untuk menajamkan kekuatan otak untuk menyerap, mengolah, mengingat, dan menyimpan informasi baru. Maka dari itu, orang yang rajin membaca diketahui memiliki risiko yang jauh lebih rendah terhadap macam-macam penyakit otak, seperti demensia dan Alzheimer.

Teori di atas dibuktikan oleh sebuah studi asal Hongkong, dikutip dari Medical Daily. Setelah mengamati lebih dari 1.500 orang lansia 65 tahun ke atas yang bebas dari demensia, peneliti menemukan bahwa mereka sudah suka membaca semenjak masih muda.

  • Ikut Kursus

Semakin tua usia Anda, rasanya semakin sulit untuk mempelajari hal baru. Wajar memang, tapi jangan jadikan ini alasan untuk Anda cepat menyerah. Belajar sesuatu yang baru di usia yang tak lagi muda bisa jadi tantangan bagi otak Anda.

Sebuah studi tahun 2014 membandingkan orang dewasa yang mempelajari fotografi sebagai hobi barunya dengan orang dewasa yang hanya aktif berolahraga saja. Hasilnya, orang-orang yang belajar fotografi mengalami peningkatan daya ingat yang lebih tinggi daripada orang yang hobi olahraga saja.

Namun bukan berarti Anda harus kursus fotografi saja, untuk mengurangi risiko demensia. Jika selama ini Anda terus mengurungkan niat untuk belajar bahasa asing, les musik, atau bahkan ikut kursus memasak karena takut gagal, jangan ragu lagi untuk mulai!

  • Ngobrol

Siapa, sih, yang tidak suka ngobrol? Nah saat Anda berinteraksi dengan orang lain, otak bekerja lebih aktif untuk menentukan bagaimana Anda harus bersikap, memberikan respons, menyatakan pendapat, dan lain sebagainya.

Sementara itu, otak juga terus merekam semua peristiwa dan percakapan yang terjadi. Proses ini bahkan terus berlanjut saat Anda sedang sendirian atau tidur malam. Bagian otak yang bertanggung jawab dalam hal ini adalah korteks prefrontal medial dan persimpangan temporoparietal. Kedua area otak tersebut berperan penting untuk memproses informasi, meningkatkan daya ingat, hingga menjalankan fungsi kognitif.

Selain itu, bersosialisasi dengan orang lain bisa menjadi cara untuk mengurangi stres yang bisa berdampak buruk bagi kesehatan otak. Bahkan, membuka percakapan basa-basi dengan orang di sebelah Anda saat menunggu bus umum datang pun bisa menyehatkan otak Anda. (Obat Infeksi Jamur Kulit)

  • Menari

Menari adalah salah satu aktivitas fisik yang dapat melatih kelenturan tubuh sekaligus menyehatkan otak. Saat menari, otak mengatur gerakan tubuh untuk mengikuti irama. Selain itu, otak juga bekerja untuk menghafal gerakan dan memproses gerakan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Semua aktivitas ini diatur oleh bagian otak yang disebut dengan basal ganglia.

Menurut sebuah studi dalam The New England Journal of Medicine, menari dapat meningkatkan daya ingat dan mencegah Anda dari kepikunan seiring bertambahnya usia. Latihan aerobik seperti menari dapat mengembalikan volume hipokampus yang hilang. Hipokampus adalah bagian otak yang mengontrol penyimpanan ingatan. Hipokampus secara alami akan menyusut saat Anda menginjak usia lanjut, yang sering menyebabkan gangguan ingatan dan kepikunan.

  • Berkebun

Selain bikin pekarangan rumah jadi lebih asri, berkebun nyatanya juga bisa membuat hati gembira dan sudah dibuktikan oleh begitu banyak penelitian medis, lho!

Penelitian yang dimuat dalam Journal of Alzheimer’s Disease melaporkan, berkebun dapat melindungi fungsi kognitif otak, meningkatkan volume otak, dan menurunkan risiko alzheimer hingga 50 persen. Studi lain yang terbit pada tahun 2006 melaporkan berkebun dapat mengurangi risiko demensia sebanyak 36 persen setelah mengamati 2 ribu orang lansia yang hobi berkebun selama 16 tahun. Selain itu, berkebun juga dapat menurunkan risiko penyakit jantung.

Baca Juga : Kelamaan Duduk Tenyata Bisa Bikin Perut Jadi Buncit

| Aktivitas Seru Yang Bisa Bantu Kurangi Risiko Demensia |