Punya Kebiasaan Menimbun Barang Bekas Pertanda Gangguan Jiwa

Pernahkah anda melihat seseorang yang gemar mengumpulkan barang yang tidak terlalu bernilai? Atau mungkin anda sendiri sering sulit membuang benda-benda yang sebenarnya sudah rusak atau tidak terpakai lagi dan menimbunnya di rumah? Jika demikian, hati-hati! Punya Kebiasaan Menimbun Barang Bekas Pertanda Gangguan Jiwa.

Punya Kebiasaan Menimbun Barang Bekas Pertanda Gangguan Jiwa

Punya Kebiasaan Menimbun Barang Bekas Pertanda Gangguan Jiwa | Semua orang menyimpan benda yang dianggap perlu, namun sering kali menjadi tidak terpakai dalam waktu yang lama. Bagi beberapa orang, menyimpan benda menjadi hal serius jika ia sudah sampai pada tahap menimbun barang bekas terlalu banyak dan mengalami kesulitan untuk menyisihkan benda yang sebenarnya tidak akan ia pakai lagi. Ini dikenal dengan istilah Hoarding. Pada dasarnya, hoarding merupakan masalah psikologis, namun sebagian besar hoarder (orang yang melakukan hoarding) tidak menyadari jika ia mengalami gangguan ini.

Hoarding disorder adalah tindakan menimbun (hoard) benda-benda yang sebenarnya tidak diperlukan. Keinginan untuk menyimpan barang ini lahir dari kecemasan dan ketakutan akan terjadi sesuatu yang buruk bila barang tersebut dibuang atau diberikan kepada orang lain. Hoarding disorder berbeda dengan kolektor.

Para kolektor umumnya mengoleksi barang tertentu, misalnya perangko, benda antik, buku, dan merawat serta menyimpannya dengan rapi. Sementara hoarder, sebutan untuk orang dengan hoarding disorder, menyimpan benda apa pun dan menumpuknya secara sembarangan.

Secara selintas mungkin tampak sederhana, tetapi hoarding disorder sebenarnya termasuk dalam gangguan mental. Intensitas gangguan ini bervariasi dari ringan hingga berat. Pada beberapa kondisi yang berat, orang dengan hoarding disorder akan menumpuk barangnya begitu banyak hingga mempersempit ruang gerak di tempat tinggalnya dan menyebabkan gangguan dalam beraktivitas sehari-hari.

Seseorang dapat dicurigai mengalami hoarding disorder bila terdapat gejala-gejala berikut:

  • Sulit untuk membuang barang-barang bekas, yang sudah tidak terpakai dan tidak memiliki nilai guna lagi.
  • Ada rasa cemas dan takut terjadi sesuatu yang buruk bila barang-barang yang ia kumpulkan dibuang.
  • Timbunan barang yang dikumpulkan sudah mengurangi area beraktivitas di rumah dan mengganggu kegiatan sehari-hari.

Sejauh ini belum diketahui penyebab jelas dari gangguan ini. Beberapa literatur ilmiah mengaitkannya dengan gangguan cemas dan gangguan obsesif kompulsif karena gejala yang ditunjukkan sering kali serupa. Faktor lain yang juga menjadi pemicu dari hoarding disorder adalah depresi setelah mengalami kejadian traumatis, misalnya kehilangan benda berharga, perampokan, kehilangan anggota keluarga terdekat, dan sebagainya.

Hoarding disorder dapat menurunkan kualitas hidup seseorang. Menimbun barang-barang membuat lingkungan tempat tinggal menjadi lebih sempit dan kadang menjadi lebih kotor karena sulit dibersihkan. Lingkungan yang kotor dan lembap akibat banyak barang tentu menyebabkan kuman penyakit mudah berkembang biak. Akibatnya, penghuni rumah tersebut mudah terserang berbagai penyakit.

Selain itu, mereka yang mengalami hoarding disorder juga umumnya memiliki hubungan yang tidak baik dengan anggota keluarga serumah atau teman-temannya. Tidak jarang konflik terjadi akibat perilaku hoarding seperti ini. Dan bila kondisi ini terus berlanjut, orang dengan hoarding disorder bisa mengalami kecemasan yang berlebihan. Gangguan cemas ini dapat memengaruhi produktivitas hidup, pola makan, dan pola tidur.

Apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi gangguan hoarding ?

Perilaku hoarding dapat diatasi dengan terapi perilaku kognitif yang bertujuan untuk mengubah pola pikir dan bagaimana seseorang bertindak. Hal ini berguna untuk mengubah konsep akan dirinya dan orang di sekitarnya. Pada akhirnya, efek dari terapi akan membantu pengidap hoarding dalam pengambilan keputusan untuk menentukan apa yang ia butuhkan dan tidak butuhkan. Jika gangguan hoarding dipicu oleh depresi, maka terapi obat antidepresan juga harus dilakukan secara berdampingan.

Baca Juga : Sering Main Gadget Sambil Tiduran Bisa Picu Kebutaan

| Punya Kebiasaan Menimbun Barang Bekas Pertanda Gangguan Jiwa |